Kepemimpinan ‘Partnership’ Suami
Situasi itu tak lazim bagi kebanyakan keluarga kita. Bagi keluarga saya yang demikian itu sudah semakin menjadi biasa. Ira istri saya, belakangan ini semakin sering pergi. Dalam sebulan, rata-rata ia tiga kali keluar negeri. terutama sejak ia ditunjuk sebagai manajer Divisi Vendor Compliance untuk wilaya Asia Tenggara.
Tahun lalu Ira hanya menangani 80 pabrik di Indonesia. mulai dari Medan, Batam-Bintan hingga Pasuruan. Dengan pekerjaaanya itu, Ira harus memastikan bahwa 80.000 buruh yang bekerja untuk pabrik-pabrik suplier perusahaanya-sebuah industri garmen Amerika dan kini terbesar sedunia-mendapat perlakuan secara memadai. Setidaknya agar mereka tidak diperas pabrik, mendapat haknya secara wajar, mendapat lingkungan kerja yang memadai untuk ukuran industri, serta keselamatan kerjanya pun terjamin.
Tahun ini jangkauan Ira diperluas. Kini ia harus bertanggung jawab atas kondisi pekerja sekitar 350 pabrik di Asia Tenggara. Indonesia tentu saja Singapura, Malaysia Kambojadan Brunei. Ia harus memonitor secara detil iklim kerja diseluruh pabrik tersebut, sekaligus mempelajari undang-undang tentang ketenagakerjaan setiap negara. Ia harus berdebat dan ‘menaklukan’ para pengusaha yang nakal, sekaligus meyakinkan kawannya dari divisi lain yang berkepentingan menjalin bisnis dengan pengusaha tersebut. Hampir semua mereka beretnis Tionghoa dari berbagai negara. Tak satupun Melayu.
Kemudian, tujuh tahun digerakan konsumen memberinya akses yang luas pada jaringan Internasional. Para aktifis gerakana yang mempromosikan ASI-dan menentang penggunaan susu formula bagi bayi-dunia terutama dari kalangan IBFAN (International Baby Food Action Network) mengenalnya dengan baik. Desember lalu ia bahkan diminta oleh IBFAN untuk mewakili Asia-kemudian bahkan Dunia-untuk menerima penghargaan Right Liverhood Award yang di Swedia diisitilahkan sebagai “Nobel Alternatif”.
Apakah dengan begitu kepemimpinan saya sebagai suami goyah?. Apakah saya tak mampu menghidupi keluarga saya bila Ira menghentikan kariernya? Insya Allah tidak. Saya tidak menyoal sama sekali ayat populer “Arrijalu qowwamuna’ alannisa,” meskipun banyak tafsir yang berkembang soal ayat itu.Saya bertanggung jawab sepenuhnya terhadap ‘arah dan ‘warna’ keluarga saya. Hanya barangkali pola kepemimpinan saya sedikit berbeda dengan pola kepemimpinan kebanyakan suami.
Sampai sekarang pun, jika mau saya dapat menggunakan otoritas saya sebagai pemimpin keluarga tanpa Ira dapat menolaknya. Tapi saya merasa , cara kepemimpinan demikian tidaklah benar.
lebih diperlukan adalah diskusi, dialog untuk mendapatkan format yang terbaik dalam keluarga. Dialog tersebut harus terus dikembangkan karena setiap hari kita menghadapi situasi baru. Indikator sederhana tingkat dialog tersebut adalah seberapa sering suami istri mendiskusikan situasi, keadaan, pola, hingga posisi yang dikuasai masing-masing dalam berhubungan intim.
Dengan pola kepemimpinan ini, pemimpin tidak menempatkan diri untuk “menggurui” atau mendikte. Walaupun dilakukan secara halus. Pemimpin perlu menempatkan diri sebagai moderator yang cerdas, yang mampu mengeksplorasi seluruh gagasan dan pikiran anggota keluarga, lalu membuat sintesa yang paling baik dan diterima semua pihak. Acapkali suami ‘takut’ untuk berdiskusi. Banyak suami tidak siap bila sang istri mengambil peran yang cukup besar di rumah tangga dan merasa “kehilangan harga diri”. seolah tugas suami selalu mencari nafkah, sedangkan adalah tugas istri adalah menangani seluruh tugas domestik atau pekerjaan rumah tangga.padahal cukup banyak variasi yang dimungkinkan dalam pola hubungan suami-istri. Semuanya tergantung dari karakter masing-masing pihak. Pola hubungan Muhammad-Khadijah sangat berbeda dengan pola hubungan Muhammad-Aisyah. Karakter keluarga saya, kebetulan lebih dekat dengan pola pertama dibanding kedua. Tanpa banyak diskusi, saya khawatir, kebahagiaan keluarga yang diidamkan hanya akan dicapai secara semu. Perempuan dan anak-anak akan cenderung menajdi ‘korban’. Acapkali istri terpaksa menerima ‘kodrat-nya’, mengubur dalam-dalam potensinya untuk dapat berperan langsung dalam masyarakat, sepenuhnya menjadi ‘mahluk domestik’, sekedar menjalankan fungsi reproduksi (yang tidak mungkin tak merasakan kenikmatannya sebagaimana yang dirasakan sang suami), serta kehilangan identitas dirinya karena ia telah menjadi “ummu….atau umminya…”
Saya bukan penganjur wanita untuk berkarier dan saya juga bukan saya juga bukan penganjur wanita untuk dirumah saja…setiap orang punya kecenderungan masing-masing. Biarkan kecenderungan itu tumbuh tanpa dipatahkan . Tinggal bagaimana mengelolanya secar baik, sesuai dengan keadaan masing-masing.
Bagi suami dengan pola kepemimpinan ‘partnership’ istri di rumah atau berkarier sama baik. asalkan pilihan itu sudah dipertimbangkan secara cermatdan benar-benar menjadi pilihan hati sang istri. Pemaksaan apakah untuk tinggal di rumah atau untuk bekerja, pada dasarnya mengingkari prinsip islam agar setiap umatnya kritis, berhati tulus dan berfikir merdeka hanya dengan mengilahkan-Nya. Sayang banyak suami yang lebih banyak mengikuti naluri primitifnya male chauvinistic ketimbang menengok teladan Muhammad terutama dalam berkeluarga denagn ummul mukminin, Khadijah) meskipun sambil mengutip hadits.
Bisa saja pendapat saya ini keliru karena keterbatasan ilmu agama saya. tapi saya berdoa, mudah-mudahan Allah memberi jalan yang baik bagi keluarga saya. jalan baik itu , Insya Allah hanya akan diberikan bila suami istri saling respek. Secara lahiriah , itu kami wujudkan setiap habis sholat berjama’ah. Ira selalu mencium tangan saya dan saya ganti mencium tangan Ira. Saya akan memijat kaki Ira, bila ia capek. ia pun akan memijat kaki saya bila saya capek. bagi saya Ira bukan hanya istri, ia juga sahabat
terbaik saya.
* Zaim Uchrowi
Pemred Tabloid Adil
