Perempuan Perkasa

•Mei 14, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Dari Republika-Jumat, 18 Januari 2008

Orang-orang menyebutnya Bu Ali. Seorang perempuan tua, lengkap dengan guratan ketuaan di wajahnya, yang saban hari masih aktif berkeliling menarik kotak Yakult yang dijualnya. Tak ada yang tampak istimewa dari perempuan itu sampai kita mendengar sepenggal kisah dari kehidupannya. Begini;

“Suatu hari, orang-orang ribut. Katanya, ada bayi ditemukan di tempat sampah. Saya dipanggil karena saya dukun pijat bayi. Saya datang. Bayi itu dibungkus dengan kain ulos Batak. Waktu saya buka, masya Allah, bayi itu tidak punya kulit. Jadi bayinya merah daging, dengan di beberapa bagian telah menggembung ….”

Bu Ali membawa pulang bayi itu. Ia sempat membawanya beberapa kali ke klinik. Entah penanganan apa yang diberikan. Yang pasti akhirnya bayi itu tetap kembali ke pangkuan Bu Ali, yang terus berpikir keras menyelamatkan sang bayi. Sebagai alas tidur bayi, ia menyiapkan daun pisang. “Saya takut badannya lengket kalau alasnya kain.” Tentu ia harus mencari daun pisang setiap hari, sebagaimana halnya menyiapkan air hangat buat mandi sang bayi.

Tak ada orang lain yang sanggup memandikan bayi itu. Perasaan jijik dan tidak tega bercampur menjadi satu. Para tetangga saban waktu datang ke rumahnya, sekadar untuk melampiaskan rasa ingin tahu, lalu bergidik ‘hiii ….’ Dengan tangan telanjang Bu Ali mengusap setiap senti daging merah bayi itu. Masih ada semacam kulit tipis di beberapa bagian tubuh bayi itu. Kulit tipis itu mengelupas saat dimandikan. Begitu pula kuku-kuku tangan dan kakinya. Usai memandikan, ia akan mengusap seluruh permukaan tubuh bayi itu dengan minyak zaitun, lalu menjemurnya di sinar matahari.

Getah bening akan keluar dari seluruh permukaan daging itu. Bu Ali akan mengelapnya hingga bersih, sebelum mengusapnya kembali dengan minyak bayi. Bila malam, ia akan mengusapnya dengan semacam talek bayi.

Hari demi hari Bu Ali melakukan itu. Beberapa bulan ketekunannya berbuah. Lapisan kulit tipis menutupi daging itu. Secara berangsur kulit itu menebal menjadi kulit normal yang terang. Dengan segala kekurangannya, Bu Ali merawatnya hingga kini menjadi pemuda yang keren dan jenius. Selangkah lagi bayi buangan tak berkulit itu akan menjadi sarjana dari sebuah universitas negeri.

Bukan kali ini saja Bu Ali mengasuh anak. Ada bayi yang diasuhnya setelah sang ibu diusir dan terpaksa menggelandang di pasar. Ada anak tanggung yang bingung di jalanan karena ditinggal begitu saja oleh pamannya. Anak-anak itu ditampungnya hingga dewasa dan mendapat kerja. Kini Bu Ali harus mengasuh tiga cucunya. Ibu anak itu meninggal setelah lama dirawat di rumah sakit. Ia dihajar suaminya, begitu memergoki sang suami itu berzina di kamarnya sendiri. Bu Ali juga harus pasang badan sendirian menghadapi puluhan warga RT tetangga yang ingin membongkar warung kecil penopang ekonomi keluarganya. Penghasilan suaminya sebagai pekerja di pompa bensin kecil, jauh dari memadai.

Ia memang bukan Tjoet Nya’ Dhien, Nyi Ageng Serang, atau Joan D’Arch. Tapi, ia juga seorang perempuan perkasa. Sebuah model keperkasaan yang ditunjukkan secara luar biasa oleh Khadijah. Khadijah, di usianya yang lebih dari setengah abad, pulang balik mendaki Gunung Nur mengantarkan makanan bagi suaminya, Muhammad SAW, berkontemplasi di sana. Ia yang selalu membesarkan hati Nabi, baik saat gamang karena wahyu lama tak turun, maupun saat penistaan dan pengucilannya di Makkah.

Keperkasaan serupa ditunjukkan oleh Ummu Salamah yang dinikahi Nabi setelah Khadijah wafat. Di Hudaibiyah, ketika para sahabat memboikot seruan Nabi karena menolak perjanjian dengan Quraish, Ummu Salamahlah yang menjadi pemberi solusi.

Keluarga, masyarakat, bahkan negara akan berjaya bila perempuannya perkasa. Itu yang diajarkan agama. Keperkasaan perempuan pula yang menjadi salah satu kunci kejayaan bangsa Cina kini. Itu terjadi setelah Mao melarang pemakaian sepatu kecil yang membelenggu kaki perempuan.

Mao juga mendorong para perempuan aktif mengaktualisasi diri, dan bukan untuk bermanja menikmati menjadi penghibur (dan kadang sasaran pelecehan) suami. Figur Khadijah cukup menginspirasi bangsa ini untuk menjadikan para perempuannya perkasa seperti Bu Ali. Itu yang akan menjadikan rumah-rumah tangga, masyarakat, bahkan bangsa berjaya dan bahagia.

Jumat, 18 Januari 2008

Perempuan Perkasa

Oleh : Zaim Uchrowi

Orang-orang menyebutnya Bu Ali. Seorang perempuan tua, lengkap dengan guratan ketuaan di wajahnya, yang saban hari masih aktif berkeliling menarik kotak Yakult yang dijualnya. Tak ada yang tampak istimewa dari perempuan itu sampai kita mendengar sepenggal kisah dari kehidupannya. Begini;

“Suatu hari, orang-orang ribut. Katanya, ada bayi ditemukan di tempat sampah. Saya dipanggil karena saya dukun pijat bayi. Saya datang. Bayi itu dibungkus dengan kain ulos Batak. Waktu saya buka, masya Allah, bayi itu tidak punya kulit. Jadi bayinya merah daging, dengan di beberapa bagian telah menggembung ….”

Bu Ali membawa pulang bayi itu. Ia sempat membawanya beberapa kali ke klinik. Entah penanganan apa yang diberikan. Yang pasti akhirnya bayi itu tetap kembali ke pangkuan Bu Ali, yang terus berpikir keras menyelamatkan sang bayi. Sebagai alas tidur bayi, ia menyiapkan daun pisang. “Saya takut badannya lengket kalau alasnya kain.” Tentu ia harus mencari daun pisang setiap hari, sebagaimana halnya menyiapkan air hangat buat mandi sang bayi.

Tak ada orang lain yang sanggup memandikan bayi itu. Perasaan jijik dan tidak tega bercampur menjadi satu. Para tetangga saban waktu datang ke rumahnya, sekadar untuk melampiaskan rasa ingin tahu, lalu bergidik ‘hiii ….’ Dengan tangan telanjang Bu Ali mengusap setiap senti daging merah bayi itu. Masih ada semacam kulit tipis di beberapa bagian tubuh bayi itu. Kulit tipis itu mengelupas saat dimandikan. Begitu pula kuku-kuku tangan dan kakinya. Usai memandikan, ia akan mengusap seluruh permukaan tubuh bayi itu dengan minyak zaitun, lalu menjemurnya di sinar matahari.

Getah bening akan keluar dari seluruh permukaan daging itu. Bu Ali akan mengelapnya hingga bersih, sebelum mengusapnya kembali dengan minyak bayi. Bila malam, ia akan mengusapnya dengan semacam talek bayi.

Hari demi hari Bu Ali melakukan itu. Beberapa bulan ketekunannya berbuah. Lapisan kulit tipis menutupi daging itu. Secara berangsur kulit itu menebal menjadi kulit normal yang terang. Dengan segala kekurangannya, Bu Ali merawatnya hingga kini menjadi pemuda yang keren dan jenius. Selangkah lagi bayi buangan tak berkulit itu akan menjadi sarjana dari sebuah universitas negeri.

Bukan kali ini saja Bu Ali mengasuh anak. Ada bayi yang diasuhnya setelah sang ibu diusir dan terpaksa menggelandang di pasar. Ada anak tanggung yang bingung di jalanan karena ditinggal begitu saja oleh pamannya. Anak-anak itu ditampungnya hingga dewasa dan mendapat kerja. Kini Bu Ali harus mengasuh tiga cucunya. Ibu anak itu meninggal setelah lama dirawat di rumah sakit. Ia dihajar suaminya, begitu memergoki sang suami itu berzina di kamarnya sendiri. Bu Ali juga harus pasang badan sendirian menghadapi puluhan warga RT tetangga yang ingin membongkar warung kecil penopang ekonomi keluarganya. Penghasilan suaminya sebagai pekerja di pompa bensin kecil, jauh dari memadai.

Ia memang bukan Tjoet Nya’ Dhien, Nyi Ageng Serang, atau Joan D’Arch. Tapi, ia juga seorang perempuan perkasa. Sebuah model keperkasaan yang ditunjukkan secara luar biasa oleh Khadijah. Khadijah, di usianya yang lebih dari setengah abad, pulang balik mendaki Gunung Nur mengantarkan makanan bagi suaminya, Muhammad SAW, berkontemplasi di sana. Ia yang selalu membesarkan hati Nabi, baik saat gamang karena wahyu lama tak turun, maupun saat penistaan dan pengucilannya di Makkah.

Keperkasaan serupa ditunjukkan oleh Ummu Salamah yang dinikahi Nabi setelah Khadijah wafat. Di Hudaibiyah, ketika para sahabat memboikot seruan Nabi karena menolak perjanjian dengan Quraish, Ummu Salamahlah yang menjadi pemberi solusi.

Keluarga, masyarakat, bahkan negara akan berjaya bila perempuannya perkasa. Itu yang diajarkan agama. Keperkasaan perempuan pula yang menjadi salah satu kunci kejayaan bangsa Cina kini. Itu terjadi setelah Mao melarang pemakaian sepatu kecil yang membelenggu kaki perempuan.

Mao juga mendorong para perempuan aktif mengaktualisasi diri, dan bukan untuk bermanja menikmati menjadi penghibur (dan kadang sasaran pelecehan) suami. Figur Khadijah cukup menginspirasi bangsa ini untuk menjadikan para perempuannya perkasa seperti Bu Ali. Itu yang akan menjadikan rumah-rumah tangga, masyarakat, bahkan bangsa berjaya dan bahagia.

Kepemimpinan ‘Partnership’ Suami

•Mei 12, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar
 Zaim Uchrowi
Dimuat di Kolom Ayah Majalah Ummi, 1999

 

— Selama juli kemarin, saya dan anak-anak empat kali ditinggal istri. Mula-mula ia pergi ke Singapura. dua hari disana. Senin berikutnya, ia terbang ke Kamboja dan baru pulang Jum’at malam. Seninnya lagi, ia berangkat ke Srilangka.lagi-lagi pulang jumat. Dua hari kemudian ahad, ia terbang ke San Fransisco, hingga ahad berikutnya.

Situasi itu tak lazim bagi kebanyakan keluarga kita. Bagi keluarga saya yang demikian itu sudah semakin menjadi biasa. Ira istri saya, belakangan ini semakin sering pergi. Dalam sebulan, rata-rata ia tiga kali keluar negeri. terutama sejak ia ditunjuk sebagai manajer Divisi Vendor Compliance untuk wilaya Asia Tenggara.

Tahun lalu Ira hanya menangani 80 pabrik di Indonesia. mulai dari Medan, Batam-Bintan hingga Pasuruan. Dengan pekerjaaanya itu, Ira harus memastikan bahwa 80.000 buruh yang bekerja untuk pabrik-pabrik suplier perusahaanya-sebuah industri garmen Amerika dan kini terbesar sedunia-mendapat perlakuan secara memadai. Setidaknya agar mereka tidak diperas pabrik, mendapat haknya secara wajar, mendapat lingkungan kerja yang memadai untuk ukuran industri, serta keselamatan kerjanya pun terjamin.
Tahun ini jangkauan Ira diperluas. Kini ia harus bertanggung jawab atas kondisi pekerja sekitar 350 pabrik di Asia Tenggara. Indonesia tentu saja Singapura, Malaysia Kambojadan Brunei. Ia harus memonitor secara detil iklim kerja diseluruh pabrik tersebut, sekaligus mempelajari undang-undang tentang ketenagakerjaan setiap negara. Ia harus berdebat dan ‘menaklukan’ para pengusaha yang nakal, sekaligus meyakinkan kawannya dari divisi lain yang berkepentingan menjalin bisnis dengan pengusaha tersebut. Hampir semua mereka beretnis Tionghoa dari berbagai negara. Tak satupun Melayu.

Saya Insya Allah, tidak terganggu sama sekali dengan kesibukan Ira yang sangat padat tersebut. Setidaknya sejak saya memutuskan untuk memperistri Ira, 1987 lalu. Sedari kecil ia bukan sosok yang “baik-baik” tinggal di rumah. Mungkin karena kehilangan figur ayahnya yang meninggal , ia mencari lewat berbagai kegiatan. Drama di waktu SD, pramuka dan kegiatan Masjid di waktu SMP, serta Osis (ia salah seorang ketua) di SMU.
Saat menikah, ia baru kuliah tingkat satu. Saya harus hijrah kembali ke Jakarta (dari Surabaya) sedangkan ia berada di Malang, sambil harus membesarkan anak seorang diri. Ira dapat menyelesaikan kuliahnya tepat waktu di Universitas Brawijaya bahkan menjadi salah satu lulusan terbaik di fakultasnya.

Kemudian, tujuh tahun digerakan konsumen memberinya akses yang luas pada jaringan Internasional. Para aktifis gerakana yang mempromosikan ASI-dan menentang penggunaan susu formula bagi bayi-dunia terutama dari kalangan IBFAN (International Baby Food Action Network) mengenalnya dengan baik. Desember lalu ia bahkan diminta oleh IBFAN untuk mewakili Asia-kemudian bahkan Dunia-untuk menerima penghargaan Right Liverhood Award yang di Swedia diisitilahkan sebagai “Nobel Alternatif”.

Ira di usianya kini 31 tahun-berpidato di depan parlemen Swedia. Lengkap dengan jilbabnya pula. Esoknya, fotonya pun muncul dibeberapa surat kabar setempat. Juli, di tahun yang sama Ira juga memberi pidato puncak pada sekitar 500-an manajer perusahaanya dari seluruh dunia di San Fransisco. “Dari sepuluh ribu karyawan di seluruh dunia, kurang dari sepuluh yang muslim. Itu pun hanya saya yang berjilab”, katanya. Ia terpilih untuk mewakili sebagai Vendor Compliance Officer terbaik di seluruh dunia.
Haruskan saya, sebagai pimpinan rumah tangga, membunuh seluruh potensi itu dengan memaksanya untuk tinggal di rumah? sedangkan ia terbukti mampu berbuat banyak untuk masyarakat, menyelamatkan banyak generasi mendatang dengan mempromosikan ASI, memperjuangkan nasib puluhan ribu buruh pabrik (termasuk memperjuangkan hak buruh-buruh etnis Champa untuk memperoleh Mushalla di Kamboja), juga menjadi “PR Islam” untuk lingkungannya, yakni bahwa seorang muslim, baik laki-laki atau perempuan dapat menjadi seorang yang terbaik, intelektualitas maupun profesionalitas.
Apakah dengan begitu kepemimpinan saya sebagai suami goyah?. Apakah saya tak mampu menghidupi keluarga saya bila Ira menghentikan kariernya? Insya Allah tidak. Saya tidak menyoal sama sekali ayat populer “Arrijalu qowwamuna’ alannisa,” meskipun banyak tafsir yang berkembang soal ayat itu.Saya bertanggung jawab sepenuhnya terhadap ‘arah dan ‘warna’ keluarga saya. Hanya barangkali pola kepemimpinan saya sedikit berbeda dengan pola kepemimpinan kebanyakan suami.
Sampai sekarang pun, jika mau saya dapat menggunakan otoritas saya sebagai pemimpin keluarga tanpa Ira dapat menolaknya. Tapi saya merasa , cara kepemimpinan demikian tidaklah benar.
Di masa sekarang, apalagi mendatang, gaya kepemimpinan ‘partnership’ lebih sesuai dibandingkan dengan gaya kepemimpinan ‘otortier’ (maaf sebenarnya ini bukan istilah yang tepat), dalam keluarga sekali pun. Dalam gaya kepemimpinan ini, yang menjadi kunci bukan lagi dominasi sikap, pemikiran ataupun tindakan suami. Baik itu disampaikan secara tegas, maupun dengan sangat halus dan lembut. Dalam kepemimpinan ‘prtnership’ yang
lebih diperlukan adalah diskusi, dialog untuk mendapatkan format yang terbaik dalam keluarga. Dialog tersebut harus terus dikembangkan karena setiap hari kita menghadapi situasi baru. Indikator sederhana tingkat dialog tersebut adalah seberapa sering suami istri mendiskusikan situasi, keadaan, pola, hingga posisi yang dikuasai masing-masing dalam berhubungan intim.
Dengan pola kepemimpinan ini, pemimpin tidak menempatkan diri untuk “menggurui” atau mendikte. Walaupun dilakukan secara halus. Pemimpin perlu menempatkan diri sebagai moderator yang cerdas, yang mampu mengeksplorasi seluruh gagasan dan pikiran anggota keluarga, lalu membuat sintesa yang paling baik dan diterima semua pihak. Acapkali suami ‘takut’ untuk berdiskusi. Banyak suami tidak siap bila sang istri mengambil peran yang cukup besar di rumah tangga dan merasa “kehilangan harga diri”. seolah tugas suami selalu mencari nafkah, sedangkan adalah tugas istri adalah menangani seluruh tugas domestik atau pekerjaan rumah tangga.padahal cukup banyak variasi yang dimungkinkan dalam pola hubungan suami-istri. Semuanya tergantung dari karakter masing-masing pihak. Pola hubungan Muhammad-Khadijah sangat berbeda dengan pola hubungan Muhammad-Aisyah. Karakter keluarga saya, kebetulan lebih dekat dengan pola pertama dibanding kedua. Tanpa banyak diskusi, saya khawatir, kebahagiaan keluarga yang diidamkan hanya akan dicapai secara semu. Perempuan dan anak-anak akan cenderung menajdi ‘korban’. Acapkali istri terpaksa menerima ‘kodrat-nya’, mengubur dalam-dalam potensinya untuk dapat berperan langsung dalam masyarakat, sepenuhnya menjadi ‘mahluk domestik’, sekedar menjalankan fungsi reproduksi (yang tidak mungkin tak merasakan kenikmatannya sebagaimana yang dirasakan sang suami), serta kehilangan identitas dirinya karena ia telah menjadi “ummu….atau umminya…”

Saya bukan penganjur wanita untuk berkarier dan saya juga bukan saya juga bukan penganjur wanita untuk dirumah saja…setiap orang punya kecenderungan masing-masing. Biarkan kecenderungan itu tumbuh tanpa dipatahkan . Tinggal bagaimana mengelolanya secar baik, sesuai dengan keadaan masing-masing.

Khadijah adalah insvestor bisnis perdagangan antar bangsa pada zamannya. Barangkali sekelas George Soros atau Rupert Murdoch sekarang. Sedangkan Aisyah mewarnai rumah tangga dengan kemanjaannya. Muhammad saw tidak memukul rata mereka untuk menjadi seragam: istri adalah penunggu dan pekerja domestik bagi suami dan anak-anak.

Bagi suami dengan pola kepemimpinan ‘partnership’ istri di rumah atau berkarier sama baik. asalkan pilihan itu sudah dipertimbangkan secara cermatdan benar-benar menjadi pilihan hati sang istri. Pemaksaan apakah untuk tinggal di rumah atau untuk bekerja, pada dasarnya mengingkari prinsip islam agar setiap umatnya kritis, berhati tulus dan berfikir merdeka hanya dengan mengilahkan-Nya. Sayang banyak suami yang lebih banyak mengikuti naluri primitifnya male chauvinistic ketimbang menengok teladan Muhammad terutama dalam berkeluarga denagn ummul mukminin, Khadijah) meskipun sambil mengutip hadits.

Bisa saja pendapat saya ini keliru karena keterbatasan ilmu agama saya. tapi saya berdoa, mudah-mudahan Allah memberi jalan yang baik bagi keluarga saya. jalan baik itu , Insya Allah hanya akan diberikan bila suami istri saling respek. Secara lahiriah , itu kami wujudkan setiap habis sholat berjama’ah. Ira selalu mencium tangan saya dan saya ganti mencium tangan Ira. Saya akan memijat kaki Ira, bila ia capek. ia pun akan memijat kaki saya bila saya capek. bagi saya Ira bukan hanya istri, ia juga sahabat
terbaik saya.

* Zaim Uchrowi
Pemred Tabloid Adil

•Mei 12, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Zaim Uchrowi

Republika, January 4, 2008 

 Suara-suara itu membangunkan saya. Suiiiiiing … tret-tret-tret-tret-tret … trak-trak-trak-trak-trak … dorrr … toetttt-toettt …! Sesaat saya berada di zona perbatasan. Perbatasan antara alam tidur dan terjaga. Namun, tidak lama. Segera saya mampu meraih jam kecil di samping tepat tidur. Benar, ini pukul 00.00. Saat pergantian tahun. Pantas begitu meriah. Tapi, tak sampai semenit kemudian mata telah kembali terpejam dengan tangan menggenggam tangan istri. Kemeriahan terus terdengar sampai lelap menenggelamkannya.

Saya terbiasa tidur relatif sore untuk ukuran orang sekarang. Itu membuat segar saat dini hari melangkah ke masjid buat shalat Subuh. Pernah saya mendengar ceramah bahwa shalat Subuh berjamaah di masjid begitu berharga. Orang-orang bilang enerji Subuh sungguh luar biasa. Sejak itu saya membiasakan diri Subuh di masjid. Sebuah pilihan yang mendorong tidur lebih sore. Kebiasaan itu berlangsung hampir saban hari. Bahkan, di detik-detik peralihan tahun sekalipun. Saya memang tak sempat melihat indahnya pesta kembang api. Tapi, itu bukan berarti tak merasakan antusiasme menyambut tahun baru.

Rasa antusias pada diri bahkan telah terasa beberapa hari sebelum tahun baru tiba. Yakni sejak berada di Makkah, saat mendampingi Pak Menteri Maftuh Basyuni yang langsung memimpin rombongan haji kita. Banyak sisi penyelenggaraan haji yang masih dapat ditingkatkan lagi kualitasnya di waktu mendatang. Namun, secara umum, pelaksanaan haji tahun ini baik. Bahkan, terbaik dibanding sebelumnya. Pencapaian itu meyakinkan saya bahwa kita, bangsa ini, akan dapat menjalani 2008 secara baik.

Masyarakat tampak antusias menyambut tahun baru. Sikap antusias itu mempertebal optimisme bahwa kita akan mendapatkan keadaan lebih baik pada 2008 ini. Ratusan ribu, mungkin malah jutaan, orang dengan sungguh-sungguh menanti detik-detik pergantian tahun. Tak sedikit yang bukan cuma bersenang-senang. Mereka juga menetapkan ‘resolusi’ bagi dirinya sendiri. Resolusi untuk mendapatkan kehidupan lebih baik tentu. Tidak sedikit pula yang menyambutnya dengan berdzikir bersama. Juga dengan memanjatkan doa tentu.

Resolusi serta doa adalah refleksi dari harapan dan keinginan. Yakni, harapan dan keinginan agar hari esok lebih baik dari hari kemarin. Harapan dan keinginan itulah yang menggerakkan kita untuk melangkah maju. Dalam istilah agama, keinginan yang bersungguh-sungguh adalah azam. Siapa memiliki harapan dan azam kuat, ia akan maju. Ia akan tertuntun pada kesuksesan dan kebahagiaan. Bangsa yang memiliki harapan dan azam kuat akan menjadi bangsa maju. Itulah hukum alam. Itu pulalah hukum Tuhan (sunnatullah) yang tak terbantahkan kebenarannya. Ketenangan hari-hari peralihan tahun ini memang sempat terkoyak oleh beberapa tragedi.

Di belahan lain dunia, tepatnya di Rawalpindi, Pakistan, peluru bukan hanya merobek tubuh Benazir Bhutto. Peluru itu juga merobek harapan warga setempat untuk mendapat kehidupan lebih baik. Di sini, di sepanjang lintasan Bengawan Solo, ratusan ribu kalaupun bukan jutaan jiwa harus terempas banjir. Beberapa tragedi itu dapat menggoyahkan harapan kita semua untuk mendapat hari-hari lebih baik di 2008 ini.

Tetapi tidak. Tragedi dan bencana tidaklah boleh menggoyahkan harapan dan keyakinan. Keduanya justru dapat menjadi faktor yang memperteguh langkah menjadi lebih baik. Bukankah kedamaian dan kemakmuran Aceh sekarang terjadi setelah tragedi Tsunami? Bukankah Jepang yang tak henti digoyang gempa dan bahkan diluluhlantakkan Amerika di Perang Dunia II adalah Jepang yang perkasa. Para keluarga korban banjir maupun longsor memang tidak melalui pergantian tahun dengan pesta kembang api dan terompet sebagaimana saya yang tidur lelap. Tapi bencana, insya Allah, justru akan mengantarkan mereka menjadi pribadi yang kuat. Pribadi yang lebih sukses lagi di 2008 ini.

Pernikahan Yang Akrab

•Mei 12, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Zaim Uchrowi

Republika, 17 Maret 2007

Baru-baru ini saya menghadiri pernikahan seorang kerabat. Pesta pernikahan itu biasa saja. Bukan di gedung besar. Bukan pula penuh pernak-pernik yang membuatnya megah. Sebaliknya, perhelatan itu justru dilakukan di rumah. Cukuplah tenda terpasang di halaman serta jalan buntu di depannya. Sebuah tenda biasa, dan bukan tenda paling megah, Makanan ditempatkan di meja sederhana bertaplak putih di garasi rumah itu. Jumlah undangannya tidak banyak. Hanya kerabat dekat dan sahabat kedua mempelai yang hadir. Pembawa acara serta pembaca doa kerabat sendiri.

Musik dimainkan oleh teman-teman pengantin. Tidak ada beragam upacara adat yang rumit yang mengiringi pernikahan itu. Pakaian serta tata rias pengantin juga biasa saja. Cuma sedikit lebih formal dibanding pada hari biasanya, namun cukup anggun untuk dipandang sebagai gambaran pernikahan. Sekali lagi, tak tampak hal luar biasa dari acara perbnikahan itu. Tetapi, saya merasa sangat nyaman berada di sana. Ada suasana yang jarang saya peroleh dari menghadiri kebanyakan pesta pernikahan pada acara tersebut. Saya merasa, suasana pernikahan itu sangat akrab.

Pembawa acara dengan sangat ringan menyapa, bahkan berseloroh, pada tamu-tamunya. Hal itu wajar karena memang ia mengenalnya persis. Antarkawan juga bisa saling dorong untuk menyanyi, atau memainkan musik. Para tamu juga saling sapa, hingga berbincang akrab. Pengantin juga tak harus terus-menerus berdiri tegak di tempatnya dengan terus-menerus memasang senyum anggun, menunggu diberi ucapan selamat. Sesekali, mereka seperti ‘menjemput bola’, berjalan (kadang bersama, kadang sendiri-sendiri) mendatangi tamu, bertukar kata secara ringan.

Suasana pernikahan demikian sungguh berbeda dengan pesta pernikahan yang kini lazim. Tapi, suasana itu justru mampu mengingatkan: apa makna pesta pernikahan? Kita acap merancang pesta pernikahan seagung dan semegah mungkin. Alasan kita, itu hari yang benar-benar istimewa. Lalu, kita merancang segalanya agar sempurna. Mulai dari bentuk undangan, atribut kenang-kenangan, seragam pakaian, tempat pelaminan, makanan, hiburan, dan sejuta pernak-pernik lainya.

 Begitu banyak yang harus diurus, dan begitu banyak yang ingin mengurus agar benar-benar sempurna. Hasilnya, seringkali pesta pernikahan justru menjadi ajang ketegangan keluarga. Alih-alih melahirkan suasana yang hangat, pesta pernikahan banyak yang kemudian menjadi sekadar formalitas. Pesta pernikahan kita acap bergeser fungsi dari acara bersyukur dan memohon doa menjadi ajang pamer gengsi dan atribut diri. Banyak tamu hadir dengan perasaan terpaksa. Tak enak tidak datang karena sudah diundang. Jika demikian, doa restu apa yang dapat kita harapkan?

Kesederhanaan dalam pernikahan hari itu menyeret saya pada pertanyaan yang dalam. Apa ya sulitnya berpikir dan bersikap sederhana seperti itu? Jangan-jangan kerumitan kita dalam menggelar pesta perkawinan adalah refleksi dari kerumitan cara berpikir dan bersikap secara menyeluruh. Kita lebih mementingkan atribut ketimbang makna. Kita memenangkan formalitas dibanding otentitas dan spontanitas. Kita mengedepankan gengsi ketimbang esensi. Pantas jika bangsa kita masih jauh dari efektif. Banyak program pembangunan kita buat, anggarannya pun dahsyat, dan kita menganggapnya hebat, namun kenyataannya kondisi rakyat masih jalan di tempat.

Banyak kerja ilmiah kita lakukan, namun dunia ilmu masih saja di ‘situ-situ’. Banyak dakwah dan ceramah dilakukan, tapi maksiat –termasuk korupsi– masih saja ramai berjalan. Semua itu tampaknya berpangkal pada kita yang tidak lagi mampu berpikir dan bersikap sederhana. Akibatnya kita makin terkendalikan atribut, dan terjauhkan dari makna. Itu yang makin mengasingkan kita (termasuk sebagai bangsa) dari kehidupan yang berkah. Pernikahan sederhana yang akrab di siang itu mengingatkan saya pada kesalahan besar kita selama ini.

Republik Ponari

•Mei 11, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Oleh Zaim Uchrowi

Republika, Jumat, 27 Februari 2009

 

Tahun-tahun awal Masehi. Masyarakat Galilea-Palestina merasa menemukan harapan untuk keluar dari penderitaan. Sekitar 800 tahun sebelumnya, mereka masyarakat berjaya. Daud maupun Sulaiman adalah raja sekaligus Rasul Allah yang membangun kehidupan adil dan makmur. Tapi, di masa itu, keadilan dan kemakmuran tinggal menjadi kenangan. Yerusalem telah terjajah Romawi. Hasilnya, penderitaan mendalam bagi rakyat. Penderitaan yang seperti tanpa jalan keluar sampai hadir Isa putra Maryam. Kematangan dan kesempurnaan pribadi Isa –kedamaian diturunkan baginya– semestinya cukup menjadi jaminan bagi bangkitnya harapan. Beliau manusia sempurna utusan Tuhan. Tapi, di masa itu, kesempurnaan pribadi dianggap belum cukup meyakinkan. Rakyat perlu bukti. Rakyat perlu mukjizat: Sesuatu di luar logika normal. Maka, hadirlah mukjizat. Berbicara saat bayi; menyembuhkan orang lepra; juga menghidupkan orang mati.

Seolah mukjizat itu akan langsung mengatasi penderitaan umat manusia. Padahal, seperti diajarkan Isa, penderitaan akan teratasi bila manusia bersandar hanya pada Ilahi. Dua ribu tahun setelah masa itu sudah berlalu. Ternyata, masyarakat tetap mengharap ada mukjizat. Termasuk masyarakat kita di tanah yang jauh dari Palestina ini. Mungkin cerita-cerita tentang ‘mukjizat’ Nabi dan ‘karomah’ Wali memang tertanam kuat di sini. Tapi, mungkin manusia memang tak berubah. Selalu perlu keajabiban. Perlu yang instan. Perlu mukjizat.

Hari-hari ini, di negeri yang subur makmur ini, masyarakat merasa menemukan mukjizat itu pada Ponari. Apa yang dapat dilakukan bocah sembilan tahun kelas 3 SD itu? Apakah Jombang, daerah penghasil tokoh-tokoh unik, seperti almarhum Asmuni, Gus Dur, hingga Ryan, menjadi faktor kelahiran fenomena Ponari? Kemungkinan besar tidak. Yang menjadi faktor kunci adalah batu asing yang bolak-balik ‘mendatangi’ Ponari. Itu dianggap semacam mukjizat. Lalu, batu itu dipandang mempunyai kekuatan menyembuhkan. Maka berduyunlah orang ke tempat Ponari, mengharap air celupan batu itu buat berobat. Sebagai pertunjukan, ini fenomena mengasyikkan. Juga, mengasyikkan buat melahirkan ide-ide liar.

Seorang pemerhati pariwisata, misalnya, menyebut batu Ponari perlu dibeli buat dicelupkan ke berbagai danau di Indonesia. ”Biar orang-orang di seluruh dunia berbondong-bondong ke danau-danau di Indonesia,” katanya. Dengan mengumbar senyum tentu. Namun, selain menghasilkan seloroh yang menyenyumkan, fenomena Ponari juga menyodok-nyodok rasa keprihatinan. Fenomena Ponari menjadi tamparan pada seluruh sisi bangsa ini. Pada dunia pendidikan, kesehatan, hingga agama. Pendidikan macam apakah yang terselenggara selama ini hingga masyarakat kita tak mampu mengelola kesehatan sendiri? Bahkan, menjadi masyarakat yang tidak berakal sehat.

 Layanan kesehatan macam apakah yang ada selama ini hingga masyarakat kita tidak percaya atau tak mampu menjangkaunya, lalu memilih lari ke batu Ponari? Pengajaran agama macam apakah yang berkembang selama ini hingga prinsip ‘sunatullah’ sederhana pun tak kita pahami? Dengan kualitas masyarakat setingkat ini, politik serta kepemimpinan publik macam apa yang terbangun di negeri ini? Tanpa transformasi mendasar di seluruh sisi, apakah Republik Ponari dengan kualitas begini dapat menjadi bangsa yang sejahtera bagi seluruh rakyatnya? Fenomena Ponari semestinya membuka kesadaran bersama kita untuk berubah secara mendasar.

Biarkan memang Republik ini tetap menjadi Republik Ponari. Tentu, bukan Ponari yang mengandalkan ‘batu ajaib’, tapi Ponari dengan moralitas kuat, cerdas, dan pekerja keras yang siap bersaing di era global

Terimakasih Istriku

•Mei 8, 2009 • 2 Komentar

Republika, Jumat 23 February 2007

Kemarin, tanggal 22 Februari, genap 20 tahun kami menikah. Sebuah angka yang belum apa-apa bagi banyak pasangan luar biasa. Mereka bisa merayakan ‘kawin perak 25 tahun’, ‘kawin emas’ 50 tahun, atau bahkan lebih. Buat mereka, pencapaian pernikahan 20 tahun tentu cuma pencapaian para pemula. Namun bagi saya dan istri, (baru) 20 tahun pernikahan adalah karunia besar.

 Di generasi kami, tak banyak yang mampu melewati waktu sependek itu secara mulus. Sejumlah orang yang saya kenal baik gagal melanjutkan pernikahannya. Alasannya beragam. Padahal, banyak di antara mereka yang berpendidikan tinggi. Kadang pengetahuan agamanya juga tak diragukan. Kenapa begitu? Sesekali saya dan istri mendiskusikannya. Kami sepakat: Penyebab tersering perceraian adalah selingkuh. Ketika salah satu pihak mulai mencederai komitmen awalnya dan berselingkuh, goyahlah sendi-sendi keluarga. Terutama bila selingkuh itu telah diwarnai hubungan seksual. Lewat pernikahan diam-diam, apalagi zina. Tidak sedikit orang berselingkuh dan tidak merasa berdosa karena tidak berzina. “Kan cuma ‘curhat’, atau makan bareng,” kilahnya. Tapi, sulit bagi penyelingkuh buat menyangkal bahwa curhat itu adalah kerikil yang ia tabur sendiri ke tengah jalan perkawinannya.

Kadang penyebab kandas perkawinan lebih sepele: “Sudah nggak cocok lagi!” Begitu ringan kalimat itu diucapkannya. Pasangan demikian, mungkin sangat berpengalaman berganti-ganti pacar sebelum menikah. Anak-anak sekarang biasa empat-lima kali ganti pacar sebelum menikah. Dalam pacaran, kalau ada masalah putus saja. Ngapain pusing. Kebiasaan itu dibawa ke perkawinan. Buat mereka pernikahan begitu kasual: toh banyak yang saat menikah sudah tak perjaka dan perawan. Pernikahan cuma sedikit lebih sakral ketimbang pacaran.

Saya bersyukur tidak masuk kategori ‘anak sekarang’ itu. Semoga anak-anak saya pun tidak masuk kategori itu. Tapi, tak semua pasangan ‘nggak cocok’ memilih berpisah. Banyak pula yang memilih mempertahankan pernikahannya. “Awet rajet,” begitu kata orang Sunda. Bertengkar melulu tapi terus bertahan. Alasannya beragam. Misalnya, demi anak. Dalam model keluarga begini, kita akan sibuk mendaftar kesalahan pasangan sendiri. Kita cenderung menudingnya tak bertanggung jawab pada anak.

Sangka kita, kita lebih bertanggung jawab dan lebih baik pada keluarga. Kita lupa bahwa pasangan hidup, sedikit banyak, adalah cermin diri sendiri. Jika nilai rapornya menurut kita merah, hampir pasti merah pula nilai rapor kita. Kita tak lebih baik dari pasangan kita. Mengapa kita tak memperbaiki diri sendiri saja? Biarkan ia memperbaiki dirinya sendiri pula. Mengapa kita terus menjadikan anak sebagai ‘senjata’ buat menghadapi pasangan sendiri?

Ada pula model berkeluarga yang sekarang sedang menjadi ‘tren’. Biasanya, posisi suami di keluarga sangat dominan. Ketika ekonomi keluarga kian mapan, dan ikatan suami-istri tak lagi terbungai perasaan berdebar-debar, suami pun membidikkan mata dan hati pada perempuan lain. Berzina jelas haram. Solusinya adalah pernikahan. Istri dengan istri dipersandingkan. Tak penting bagaimana perasaan istri yang dulu seperti dijanjikan menjadi ratu keluarga sepanjang usia. Tak penting pula bagaimana perasan anak-anak, meskipun mereka merasa malu atas langkah ayahnya. Laki-laki demikian umumnya punya kemampuan untuk membuat istri dan anak-anaknya terdiam. Apalagi bila menggunakan alasan syariah.

Sebuah format syariah yang berbeda dengan yang ditunjukkan pasangan Muhammad SAW-Khadijah: Mereka hidup bersama tanpa poligami hingga maut memisahkannya. Perjalanan 20 tahun pernikahan saya tidak semeriah kawan-kawan itu. Pesta pernikahan saya dulu sederhana saja. Saya merasa tidak sepantasnya bila awal perjalanan dipestakan megah. Saya dan istri lalu mengisi pernikahan dengan langkah-langkah sederhana. Misalnya, untuk sama sekali tidak pernah meninggikan suara karena hanya akan saling melukai. Juga untuk tidak mengatakan “saya kan sudah berkurban …” karena pernyataan itu sebenarnya lebih merupakan ekspresi menuntut dibanding sungguh-sungguh berkurban. Kami saling mendoakan, juga mendoakan secara spesifik anak-anak dengan menyebut nama satu persatu, setiap habis shalat. Juga menciptakan suasana agar setiap anggota melangkah hanya yang dapat membuat semua anggota keluarga lain dapat berjalan ‘tegak’. Itu langkah kami. Sebuah format syariah yang berbeda dengan yang ditunjukkan pasangan Muhammad SAW-Khadijah: Mereka hidup bersama tanpa poligami hingga maut memisahkannya.

Perjalanan 20 tahun pernikahan saya tidak semeriah kawan-kawan itu. Pesta pernikahan saya dulu sederhana saja. Saya merasa tidak sepantasnya bila awal perjalanan dipestakan megah. Saya dan istri lalu mengisi pernikahan dengan langkah-langkah sederhana. Misalnya, untuk sama sekali tidak pernah meninggikan suara karena hanya akan saling melukai. Juga untuk tidak mengatakan “saya kan sudah berkurban …” karena pernyataan itu sebenarnya lebih merupakan ekspresi menuntut dibanding sungguh-sungguh berkurban. Kami saling mendoakan, juga mendoakan secara spesifik anak-anak dengan menyebut nama satu persatu, setiap habis shalat. Juga menciptakan suasana agar setiap anggota melangkah hanya yang dapat membuat semua anggota keluarga lain dapat berjalan ‘tegak’. Itu langkah kami. Kini hari-hari kami banyak terisi dengan duduk bersama menikmati kesenyapan dengan tangan saling genggam, menunggu Subuh diazankan. Sungguh itu merupakan karunia luar biasa. Sebuah kenyamanan yang mencetuskan tanya istri saya: “Mengapa pada banyak orang begini saja tidak bisa? Apa sulitnya?” Saya tak tahu jawabnya. Saya hanya bisa berkata “Terima kasih ya.” Kini hari-hari kami banyak terisi dengan duduk bersama menikmati kesenyapan dengan tangan saling genggam, menunggu Subuh diazankan. Sungguh itu merupakan karunia luar biasa. Sebuah kenyamanan yang mencetuskan tanya istri saya: “Mengapa pada banyak orang begini saja tidak bisa? Apa sulitnya?” Saya tak tahu jawabnya. Saya hanya bisa berkata “Terima kasih ya.”

Pilpres

•Mei 8, 2009 • 2 Komentar

Oleh Zaim Uchrowi
Republika, Jumat, 08 Mei 2009

Lihat ekspresi bocah itu. Di tengah dingin pagi yang menggigilkan, dalam balutan jas lengkap, ia tampak antusias berada di antara antrean jutaan orang. Ia juga ingin jadi saksi sejarah: Mengikuti pelantikan Obama sebagai Presiden Amerika. Ekspresinya itu ikut dijadikan rangkaian gambar oleh Damon Winter dari The New York Times hingga meraih penghargaan jurnalistik Pulitzer.

Eskpresi itu hanya sebuah potret antusiasme publik mengikuti kemenangan Obama. Sebuah kemenangan yang disebut sebagai “kemenangan perubahan”. Obama dipandang sebagai simbol perubahan. Bukan semata karena ia Presiden Amerika pertama yang berkulit Hitam. Tapi, Obama memang sungguh-sungguh mengusung gagasan perubahan.
Obama meyakinkan semua bahwa Amerika harus berubah. Sudah tak memadai lagi Amerika dipimpin dengan cara lama. Pandangan Obama disambut masyarakatnya. Dunia ikut gembira. Kegembiraan yang terpicu dua hal. Pertama, pemilihan presiden (pilpres) itu menghasilkan pencerahan atau harapan baru. Bukan hanya pada Amerika, tapi juga dunia. Kedua, semua terpesona menyaksikan pertarungan politik beradab: Adu gagasan di atas fondasi integritas dan etika yang kuat.

Wajah politik seperti itulah yang sejak lama saya harapkan terbangun di nusantara ini. Harapan itu menguat setelah Amien Rais sukses memimpin gerakan reformasi. Pertarungan politik Indonesia pascareformasi saya harapkan merupakan pertarungan ksatria adu gagasan memajukan bangsa. Bukan sekadar adu menang yang bila perlu dengan tipu dan khianat seperti gaya pertarungan politik purba. Hanya melalui pertarungan beradab, kekuasaan yang menang akan mampu melahirkan peradaban yang membawa bangsa pada kehidupan lebih baik.

Semestinya harapan itu telah terwujud. Reformasi sudah berjalan lebih dari 10 tahun. Pak Amien juga masih setia mengawal perjalanan politik bangsa ini. Ternyata tak demikian. Reformasi baru sebatas format luar, yang menyembunyikan format dan budaya politik lama yang masih banyak borok. Yakni, format dan budaya politik yang banyak permainan kepentingan hingga praktik politik uang. Integritas dan etika masih menjadi bulan-bulanan. Bahkan, di lingkungan partai pengusung reformasi sekalipun.

Format dan budaya baru politik yang mengedepankan gagasan sempat dicoba Soetrisnoÿ20Bachir, pemimpin PAN. Ia lontarkan gagasan membangun negara dari desa. Menurutnya, setiap desa semestinya dapat anggaran Rp 1 miliar per tahun. Dengan begitu perekonomian desa bergerak, bangsa akan maju.

Publik menyambut gagasan itu. PAN yang ditaksir cuma dapat 2,9 persen suara, meraih sekitar 6,4 persen dukungan. Lebih 70 persen suara itu berasal dari pendukung baru. Bukan mengapresiasi, komunitas politik justru memperkuat tak menyambut pendekatan itu. Soetrisno justru ditelikung kalangannya sendiri, yang mungkin juga terkait dengan kekuatan politik lain. Tidak tegaknya integritas dan etika itu juga terjadi di berbagai bidang lain dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini. Seperti pada kasus pelanggaran hukum berat yang menyeret tokoh penegak hukum penting Antasari Azhar dan Kombes Wiliardi Wizar.

Pilpres 2009 semestinya dapat menjadi momentum lahirnya format dan budaya politik baru. Format dan budaya yang mengedepankan adu gagasan membangun bangsa di atas integritas dan etika yang kuat, dan bukan tikung-menelikung menjegal calon pesaing. Syukur bila pilpres ini juga mampu membawa angin perubahan bagi bangsa, entah oleh kandidat lama atau calon yang baru. Hanya dengan begitu Indonesia dapat lepas landas seperti Korea Selatan (1960-1980), serta Tiongkok di saat-saat sekarang, hingga melampaui jangakauan gaya tarik gravitasi yang dapat menghempaskan bangsa keÿ20bawah.

Tapi, tampaknya, pilpres kali ini belum akan seperti itu. Pilpres 2009 ini masih mengusung format pertarungan politik gaya lama, yang tak akan banyak berpengaruh pada upaya perbaikan bangsa secara menyeluruh. Namun, mudah-mudahan perkiraan ini keliru. Di beberapa hari tersisa ini, mudah-mudahan para elite politik sempat becermin dan menatap matanya sendiri dalam-dalam hingga menembus lubuk hati: Saya ingin membuat kebaikan bagi bangsa ini dengan cara baik ataukah sekadar ingin berkuasa dan menjadi lebih kaya? Saya ingin menyaksikan ekspresi antusias anak-anak negeri ini buat menyambut pelantikan presiden nanti, serupa ekspresi bocah dalam foto pemenang Pulitzer itu. Itu hanya terjadi bila semua menjaga tegak integritas dan etika di pilpres nanti.